Blog

Mengatasi Sariawan Bayi dengan Cara Ampuh

bayi-sariawan-web
go-dok.com

Sebagai orangtua, Anda tentu merasa sangatlah merasa khawatir jika anaknya sakit. Terkhusus bagi buah hati yang masih kecil dan konsumsi pangannya terbatas pada ASI saja; setiap gangguan pada kesehatannya, termasuk sariawan bayi, pasti akan langsung membaut Anda cemas dan waswas.

Perlu diketahui, Bunda; bahwa meskipun sariawan bayi bukanlah termasuk gangguan kesehatan yang mengancam jiwa, namun tetap saja kondisi ini dapat membuat si kecil rewel. Terutama jika ia masih tergantung pada konsumsi ASI. Sariawan sudah pasti akan membuat ia merasa tidak nyaman sebab kegiatan menyedot ASI akan terasa menyakitkan.

(Baca: Bunda, Perhatikan Hal Ini Ketika Membekukan ASI!)

Lalu, apa sih penyebab sariwan bayi? Jika ditilik lebih lanjut, sariawan bayi umumnya dipicu oleh infeksi jamur Candida albican yang umumnya ditularkan melalui putting payudara ibu. Seperti yang diketahui, bayi belum memiliki daya tahan tubuh kuat sehingga riskan bagi mereka untuk terkena sariawan. Kondisi ini semakin rentan dialami oleh bayi  yang lahir prematur.

Berikut Go Dok paparkan 6 cara mudah sembuhkan sariawan bayi:

1. Minyak kelapa

Minyak kelapa ini tidak hanya digunakan untuk masakan saja. Sifat anti-jamur alami yang terdapat pada minyak kelapa mampu mencegah pertumbuhan jamur. Penggunaannya cukup mudah, lho. Bunda hanya perlu mengoleskan minyak kelapa ke kepala puting payudara dan mulut bayi sebelum jam menyusui.

2. Probiotik

Salah satu untuk mengobati sariawan adalah makanan yang dikonsumsi. Anda dapat mengonsumsi makanan yang mengandung probiotik, seperti yoghurt, kimchi, acar, atau suplemen pribotik. Pasalnya pribiotik dapat menjaga keseimbangan bakteri sehat. Ibu dapat mengonsumsi Lactobacillus acidophilus, sedangkan suplemen yang mengandung Bifidus lactobacillus dapat diberikan kepada bayi.

3. Miconazole

Biasanya dokter akan menyarankan anda untuk memberikan miconazole pada bayi. Miconazole merupakan obat seperti gel yang dioleskan ke bagian mulut yang terkena sariawan. Akan tetapi, jari anda haruslah bersih dan steril. Untuk pemakaiannya, oleskanlah gel secara perlahan pada bagian mulut yang terkena sariawan. Ingat! Jangan sampai mengenai bagian belakang mulut bayi karena bisa saja bayi akan tersedak. Meski efektif, namun terdapat efek samping dari penggunaan obat ini. Setelah menggunakannya, sebagian bayi akan jatuh sakit, namun efek ini tidak akan berlangsung lama.

4. Nystatin

Selain miconazole, dokter juga menyarankan nystatin untuk dikonsumsi bayi yang menderita sariawan. Obat ini berupa cairan, dan cukup diteteskan ke bagian mulut yang terkena sariawan untuk menyembuhkannya. Nah, untuk yang satu ini Bunda bisa tenang, sebab nystatin tidak memiliki efek samping apapun pada bayi.

5. Cuka sari apel

Jarang yang tahu bahwa sari apel memiliki beberapa khasiat untuk menyembuhkan penyakit, salah satunya adalah sariawan. Mengapa? Sebab, cuka dan jamur sejatinya tidak akan bisa hidup berdampingan. Oleh karenanya, cuka sari apel ini dapat mengalahkan dan menghilangkan jamur penyebab sariawan pada bayi Anda. Cara pemakaiannya? Mudah saja, cukup oleskan cuka ke kepala puting payudara Anda sebelum si kecil menghisapnya.

6. Sinar matahari

Tentunya, Anda pernah melihat seorang bayi dijemur di bawah sinar matahari pagi, bukan? Hal ini bagus untuk bayi, karena cahaya matahari pada jam 7 – 9 pagi memang bagus untuk pertumbuhan bayi. Jika bayi terus-menerus ditahan di dalam rumah, udara yang lembap dalam ruangan bisa menyebabkan jamur berkembang semakin banyak, sehingga bayi akan lebih rentan terkena sariawan. Berjemur di bawah sinar mentari pagi dapat mencegah jamur berkembang di dalam mulut bayi. Selain itu, usahakan Bunda tidak memakai pakaian yang ketat agar jamur tidak berkembang dan sirkulasi udara lancar.

(Baca: Manfaat Sinar Matahari untuk Tubuh)

Usahakanlah agar mengonsumsi makanan yang tidak menimbulkan sariawan karena jika anda sariawan, maka bayi juga riskan tertular. Perhatikan puting payudara apakah terkena jamur, seperti sakit ketika menyusui dan warna puting berubah. Jika bayi terkena sariawan, jangan panik. Cobalah cara di atas untuk mengatasinya. Selamat mencoba, dan semoga bermanfaat!

Dilansir dari http://www.go-dok.com

Waspada! Bahaya Obesitas pada Anak

anak-obesitas-web.jpg
http://www.go-dok.com

Beberapa saat yang lalu, khalayak Indonesia dikejutkan oleh pemberitaan yang mengabarkan seorang anak di daerah Karawang memiliki bobot tubuh yang sangat berlebih, apalagi jika dibandingkan dengan usianya yang baru menginjak 10 tahun.

Ya, Anda tentunya familiar dengan nama Arya Permana. Bocah yang duduk di kelas 3 SD ini memiliki tubuh yang terlampau gemuk, yaitu berkisar di angka 190 kg. Bahkan, saking hebohnya pemberitaan mengenai Arya, banyak media online internasional yang turut meliput sosoknya.

Walaupun anak bertubuh gemuk seringkali dianggap lucu dan menggemaskan, namun dalam beberapa kasus obesitas anak –seperti halnya yang menimpa Arya-, berat badan yang terlampau berat ternyata dapat memicu beberapa kondisi kesehatan serius, bahkan mematikan. Apa saja bahaya obesitas pada anak yang harus diwaspadai? Berikut penjelasan lengkapnya:

2. Penyakit kardiovaskular

Dr.Laila Hayati, M.Gizi, SpGK –seorang ahli gizi- menyatakan bahwa kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi lemak, semisal ayam goreng dan pizza, ternyata bukan saja memicu obesitas, namun juga dapat menyebabkan anak lebih rentan menderita penyakit kardiovaskular. Alasannya tidak lain karena tingginya kandungan minyak serta lemak di dalam makanan tadi dapat memicu timbulnya plak pada pembuluh darah. Jika tidak segera ditangani, maka plak semakin lama akan semakin menumpuk hingga akhirnya menyumbat peredaran darah dan  memicu beberapa kondisi fatal, seperti serangan jantung dan stroke. Mengerikan ya bahaya obesitas pada anak ini!

2. Asma

Kemudian bahaya obesitas yang mengintai pada anak lainnya adalah asma. Ya, gangguan kesehatan yang umumnya ditandai dengan beberapa gejala umum, seperti kesulitan bernapas, napas pendek, hingga dada yang terasa nyeri ini dapat menimpa anak obesitas karena lemak serta bobot badan berlebih akan menekan paru-paru serta memaksnya untuk bekerja lebih keras.

3. Diabetes

Bahaya obesitas pada anak yang pertama adalah diabetes. Seperti yang kita ketahui, diabetes merupakan penyakit yang dipicu oleh ketidakmampuan tubuh untuk meproduksi insulin sehingga kadar gula di dalam darah pun meningkat. Dari kedua tipe diabetes yang sering kita temui –diabates tipe 1 dan 2-, obesitas pada anak yang berakar pada penerapan pola hidup tidak sehat erat kaitannya dengan diabetes tipe 2. Karenanya, pada anak yang menderita diabetes ini, sangat umum ditemui beberapa gejala umum, seperti:

  • Penurunan berat badan yang drastis
  • Sering merasa haus dan lapar
  • Timbulnya masalah penglihatan sebab mata memproduksi cairan dalam jumlah yang lebih besar
  • Sering buang air kecil

4. Penurunan sistem imun

Walaupun terdengar asing, namun obesitas pada anak terbukti dapat menurunkan sistem kekebalan tubuhnya dalam menghalau paparan virus serta bakteri penyebab penyakit. Lho, kok bisa? Alasannya tidak lain karena obesitas dapat memicu inflamasi pada bagian otak tertentu yang memengaruhi produksi sel darah putih, semisal limfosit. Menurunnya produksi sel darah putih inilah yang kemudian membuat anak lebih rentan terkena berbagai jenis penyakit.

5. Non-Alcoholic Fatty Liver Disease (NAFLD)

Terakhir, bahaya obesitas yang harus diwasapadai oleh setiap orangtua adalah Non- Alcoholic Fatty Liver Disease/NAFLD (Perlemakan hati non-alkoholik). Gangguan kesehatan ini disebabkan oleh organ hati yang tertutup lemak dengan persentase lebih dari 5%. Dampaknya, fungsi organ hati akan terganggu sehingga penderita NAFLD sering kali mengeluhkan sakit di perut kanan bagian atas, mual, hingga badan yang mudah terasa lelah.

(Baca: Penyakit Hepatitis)

Itu tadi 5 bahaya yang mengintai anak dengan berat badan berlebih, alias obesitas. Semoga bermanfaat!

Dilansir dari http://www.go-dok.com

Bosan? Coba Hilangkan dengan Me Time

Me-time-tanpa-pasangan-web
go-dok.com

Bagi Anda yang masih lajang, hari pernikahan bisa jadi merupakan momen yang ditunggu-tunggu. Karena pada dasarnya, siapa sih yang tidak ingin memiliki keluarga yang harmonis dan dikaruniai banyak keturunan?

Akan tetapi, setelah menikah nanti barulah Anda menyadari bahwa sulit sekali rasanya meluangkan waktu untuk diri sendiri. Bagaimana tidak! Bagi seorang ibu, kegiatan sehari-harinya sudah dimulai sejak dini hari. Mulai dari kesibukan mempersiapkan sarapan untuk anak-anak dan suami, bersih-bersih rumah, hingga menjemput anak dari sekolah. Apalagi jika Anda termasuk working mom; maka, kewajiban di kantor dan keharusan mengurus rumah tangga akan membuat Anda lelah dan penat.

Bagaimana dengan Anda, para suami? Setelah menikah, Anda diwajibkan untuk menafkahi keluarga dari segi finansial. Karenanya, tidak jarang Anda ‘lupa waktu’ dan terlalu sibuk dengan pekerjaan. Dampaknya, lama-lama Anda akan merasakan stres yang berlebih, bahkan berisiko besar mengalami kondisi burnout.

Dampak buruk minim waktu me time bagi pasutri

Dilansir dari sebuah media online, berikut beberapa dampak buruk minimnya waktu me time bagi pasutri:

  • Rentan mengalami stres dan depresi. Hal ini dikarenakan pasutri yang jarang meluangkan waktu me time di sela-sela kesibukannya akan sering merasa tertekan dengan kegiatan yang berulang dan itu-itu saja.
  • Berdampak pada anak. Meskipun terdengar asing, namun pasutri yang terpaku pada tugas rumah tangga yang monoton akan lebih sering memarahi anak bahkan menyalahkannya. Alasannya tidak lain karena orangtua, khususnya ibu, sering memendam perasaan mengenai kesibukan yang ia punya. Dampaknya, sekali saja anak melakukan kesalahan, maka orangtua akan cenderung memarahinya daripada menasihatinya dengan baik.
  • Meningkatkan risiko perceraian. Meskipun terdengar ekstrem, namun banyak para ibu rumah tangga yang mengeluhkan bahwa kegiatan yang sama setiap harinya membuat mereka menyesali keputusan menikah. Kenapa? Karena mereka merasa bahwa kebebasannya berkurang. Tidak heran jika kemudian semua perasaan frustasi mereka limpahkan dengan cara menggerutu ke suami. Inilah yang dicurigai banyak pihak dapat memciu retaknya biduk rumah tangga.

Solusinya…

Demi menghindari dampak buruk yang telah disebutkan sebelumnya, maka Anda disarankan untuk segera mendiskusikan waktu me time dengan pasangan. Jangan tunda-tunda lagi, ya! Sebab, dengan meluangkan waktu sejenak dan membiarkan diri melakukan hobi yang disukai, Anda justru akan lebih menghargai fungsi serta tugas di dalam rumah tangga.

Jangan salah! Me time tidak selalu memerlukan waktu yang lama, kok! Cukup meluangkan waktu selama beberapa jam saja, kejernihan pikiran serta energi tubuh Anda akan kembali seperti sedia kala. Berikut beberapa pilihan kegiatan me time yang dapat dipilih:

– Suami

1. Memancing

2. Melakukan olahraga favorit, seperti sepak bola, futsal, ataupun berenang

3. Berkumpul bersama teman, dll.

– Istri

1. Berbelanja

2. Mengikuti arisan dengan teman-teman

3. Menonton film atau drama favorit, dll.

Memang, mengorbankan ego serta kepentingan pribadi di dalam rumah tangga merupakan keharusan yang harus dilakukan. Namun, bukan berarti Anda harus mengorbankan kesenangan; karena keputusan ini justru dapat memicu pertengakaran. Jadi, segera atur dan luangkan waktu me time, ya!

Dilansir dari www.go-dok.com

Jangan Lupa Bacakan Dongeng Sebelum Tidur pada Anak!

Bunda-Jangan-lupa-bacakan-dongeng-sebelum-tidur_web
source: go-dok.com

Bunda, apakah Anda termasuk orang tua yang rajin membacakan dongeng untuk mengantar tidur anak? Memang, membiasakan kegiatan yang satu ini dapat menjadi tantangan tersendiri, khususnya bagi Anda orang tua yang memiliki pekerjaan di luar rumah. Badan yang lelah akibat padatnya aktivitas seharian seringkali jadi alasan mengapa rasanya enggan sekali meluangkan waktu beberapa saat untuk membacakan dongeng untuk anak, walau hanya satu atau dua halaman.

Tapi, tahukah Anda, bahwa kebiasaan yang kerap kali disepelekan ini ternyata berdampak besar bagi tumbuh kembang anak, baik dari segi kecerdasan intelektual maupun emosional? Tidak percaya? Berikut penjelasan lengkapnya:

1. Mengembangkan imajinasi anak

Dikutip dari kompas.com, Efnie -psikolog anak- menyatakan bahwa anak  berusia 3 – 7 tahun cenderung memiliki dunia mereka sendiri. Nah, dengan terbiasa membacakan dongeng pengantar tidur setiap malam, Anda secara tidak langsung telah menstimulus perkembangan daya imajinasi yang positif dan efektif pada buah hati. Lalu, apa manfaatnya jika si kecil memiliki imajinasi yang kuat? Ia akan lebih aktif dan efektif dalam mengkritisi hal-hal disekitarnya karena daya visualisasi otaknya telah dilatih sejak dini melalui penggambaran tokoh dan kejadian di dunia dongeng. Mengejutkan, bukan?

2. Meningkatkan kemampuan verbal

Jarang yang mengetahui bahwa salah satu manfaat membacakan dongeng bagi anak adalah meningkatnya perbendaharaan kata si kecil sehingga ia bisa berkomunikasi dengan lebih efektif.  Terlebih lagi bagi Anda yang memiliki buah hati yang belum lancar bertutur kata. Mendongeng setiap malam terbukti dapat menstimulus otak anak untuk merespon setiap unit wicara yang digunakan, mulai dari intonasi, struktur kalimat, hingga makna pragmatis tuturan.

3. Membangun karakter anak

Pada buku dongeng, biasanya terselip budi pekerti dan nilai moral yang dapat diambil. Oleh karena itu, daripada ngomel-ngomel dengan tujuan agar anak berkelakuan baik, Anda lebih baik mulai membiasakan diri untuk membacakan dongeng setiap malam hari. Kenapa? Menurut Efnie, nilai positif yang diterapkan secara sukarela bersifat lebih efektif dibandingkan dengan nilai yang dipaksakan. Dengan menyimak dongeng yang Anda bacakan, buah hati dapat berfikir secara mandiri dalam memutuskan mana perilaku yang boleh dilakukan dan mana yang tidak. Hebat, bukan?

4. Membangun ikatan emosional

Tahukah Bunda, bahwa momen di mana Anda membacakan dongeng untuk anak dapat menjadi kenangan yang buah hati kenang hingga ia dewasa nanti? Fragmen-fragmen kenangan inilah yang membuat hubungan Anda dengan si kecil semakin dekat, tanpa peduli seberapa dewasa ia kelak. Selain itu, emosi dan afeksi yang Anda berikan setiap kali mengajak si kecil menyelami dunia khayalan akan turut membentuk kepribadian anak sehingga ia akan tumbuh menjadi sosok penyayang.

Jadi, masih malas baca dongeng untuk anak?

Dilansir dari www.go-dok.com

Hentikan Kebiasaan Buruk Buang-Buang Makanan!

Stop-buang2-makanan_web.jpg
source: http://www.go-dok.com

Sering buang-buang makanan dengan menyisakan makanan sehabis makan? Kebiasaan membuang-buang makanan merupakan kebiasaan yang sangat buruk dan harus dihindari. Karena jika sudah menjadi kebiasaan dampaknya, baik anak-anak maupun orang dewasa akhirnya menganggap perilaku ini sebagai sesuatu yang wajar dan lumrah dilakukan.

Beragam alasan digunakan, mulai dari rasa masakan yang kurang sedap di lidah, sudah terlalu kenyang, kondisi makanan yang sudah dingin, sedang menjalani program diet hingga keterbatasan waktu karena kesibukan yang padat. Faktanya, masih banyak penduduk di Indonesia dan belahan bumi lain yang tidak seberuntung kita hingga menyebabkan mereka kekurangan bahan pangan, sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan kalori mereka dengan makan tiga kali sehari. Menyedihkan, bukan?

Selain karena merupakan bentuk ketidak tenggangan rasa, perilaku membuang-buang makanan juga dapat memicu timbulnya permasalahan lingkungan akibat semakin menumpuknya sampah. Dilansir dari Huffington Post, di Amerika Serikat, persentase jumlah sampah makanan berada di angka yang mencengangkan, yakni 40 persen. Bahkan, yang lebih mengejutkan lagi, lebih dari 80 persen dari sampah yang dibuang ternyata masuk dalam kategori sampah edible (masih layak dimakan). Menurut Departemen Agrikultur Amerika Serikat, warga Amerika pada umumnya membuang 40 persen ikan segar, 23 persen telur, dan 20 persen susu. Melihat besarnya angka persentase di atas  saja sudah terbayang, betapa ‘mubazirnya’ jumlah makanan yang terbuang sia-sia!

Masih yakin mau buang-buang makanan? Mulai sekarang sebaiknya pikirkan ulang kebiasaan buruk tersebut, berikut beberapa alasan mengapa Anda harus mulai menghentikan kebiasan buruk ini:

  1. Sumber pangan kita terbatas.Semakin hari, jumlah populasi manusia semakin banyak. Namun, hal ini tidak diimbangi dengan jumlah lahan pertanian dan peternakan yang justru semakin sedikit. Hasilnya, ketersediaan pangan tidak mampu mengimbangi jumlah populasi manusia.
  2. Sia-sia. Selain sia-sia karena membuang makanan yang masih layak dikonsumsi, perlu diingat bahwauntuk membeli satu produk pangan, banyak usaha dan materi yang terbuang. Jadi, ingat ya! Ketika membuang makanan,  Anda secara tidak sadar telah membuang-buang uang.
  3. Memperbanyak sampah.Hampir setiap makanan yang Anda beli dibungkus dengan kemasan yang beraneka ragam, mulai dari kantong plastik, kaleng, kertas, dus, hingga styrofoam. Nah, makanan yang Anda buang beserta kemasannya akan menambah jumlah sampah organik dan anorganik. Hal ini tentunya tidaklah baik untuk kelangsungan lingkungan hidup sekitar karena kaleng dan plastik makanan membutuhkan waktu yang lama atau setidaknya 400 tahun untuk sampai dapat terurai dengan baik atau sempurna oleh tanah.

Jadi, mulai sekarang sebelum Anda makan sebaiknya takar dulu porsi makan Anda agar tidak ada makanan yang terbuang secara percuma. Mulai sekarang, berhenti buang-buang makanan ya!

Dilansir dari www.go-dok.com